Resensi Novel: A Thousand Splendid Suns
Judul Buku : A Thousand Splendid Suns
Penulis : Khaled Hosseini
Penerbit : Qanita
Tahun : 2008
Ukuran Buku : 516hal; 20.5 cm
ISBN : 979-3269-68-9
Edisi Cetakan : Cetakan kelima, April 2008
Review oleh : evyta.ar
Bahasa : Indonesia
Hampir serupa dengan buku pertamanya ‘The Kite Runner’, Khaled dalam buku ini masih mengangkat tema kemanusiaan dengan latar belakang Afghanistan. Awalnya, saya begitu penasaran bagaimana isi dan kisah dalam buku kedua Khaled Hosseini ini, sebab buku pertamanya cukup memuaskan saya. Setelah membaca novel ini, satu ungkapan yang bisa saya katakan, “Menegangkan!”.
Awal Kisah yang Membuat Penasaran
Bab awal novel ini memaparkan kisah si tokoh utama, Mariam, saat masih kecil bersama ibunya dan Jalil, ayahnya. Kisah seorang Mariam hasil hubungan gelap, dan ibunya menyebutnya Harami (anak haram). Saat membaca bab-bab awal, saya begitu penasaran tentang siapa itu Jalil dan bagaimana kehidupannya. Begitu pun tentang Nana, ibu Mariam, yang menurut cerita memiliki sifat yang sulit ditebak. Penasaran saya bertambah saat konflik terjadi ketika Nana meninggal bunuh diri, konflik yang muncul dari hati Mariam sendiri tentang kehidupannya. Dan, yang paling membuat saya terkesan dan penasaran adalah cara penulis merangkai adegan demi adegan yang memberi dampak perubahan drastis kehidupan Mariam hanya dengan satu tindakan saja, datang ke rumah Jalil. Menurut saya ini upaya sangat cerdas untuk membuat setting berbalik 180 derajat terhadap masa depan Mariam. Fantastik!
Cukup Membuat Otak Berputar
Bagian di mana Mariam telah menikah dan berkeluarga membuat saya cukup senang, namun tetap hati saya menerka-nerka apa yang akan terjadi selanjutnya. Apakah Mariam akan bahagia atau tidak? Jawabannya saya dapatkan ketika Mariam harus keguguran. Ya, hidupnya menjadi semakin menderita.
Selain itu, di bagian kedua buku ini, terus terang saya sedikit agak bingung. Karena tiba-tiba penulis mengisahkan tentang kehidupan Laila dari A sampai Z, hampir di seluruh bagian kedua. Dalam hati saya bertanya-tanya, apa hubungannya Laila dengan kisah Mariam ini? Tapi saya masih bisa bersabar untuk melanjutkan lembar demi lembarnya. Dan, jawaban itu lagi-lagi saya dapatkan di awal bagian ketiga novel ini. Yang saya lakukan, setelah memahami kisahnya, hanya mengangguk-angguk tanda sudah memahami alur cerita.
Seperti Film saja, Plotnya Terpisah-pisah
Ya, begitu menurut pandangan saya. Penulis mengisahkan kehidupan Laila dan Mariam bergantian, saya harus membaca ulang secara cepat bab-bab sebelumnya ketika mengalami sedikit kebingungan. Pertanyaan demi pertanyaan berseliweran di kepala. Saya memang cenderung suka membaca novel yang alurnya maju meski menegangkan, bukan maju mundur. Sebab itu membuat saya sedikit bingung. Tapi lumayan enak lah dibaca, dibanding buku lain yang pernah saya baca dengan plot lompat-lompat.
Menegangkan!
Itu hal yang paling membekas bagi saya saat membaca buku ini, bahkan hingga saya selesai membacanya, masih ada ketegangan yang tersisa. Bagaimana perang Afghanistan yang sedang berkecamuk, bom, senjata, pembunuhan, kekerasan, semua itu membuat saya tegang. Begitu pun saat dikisahkan kehidupan Mariam bersama Rasheed, suaminya. Pemukulan, amarah, darah, semakin membuat jantung saya berdegup cepat. Seolah-olah saya sedang berada di sana namun hanya bisa melihat tanpa bisa berbuat apa-apa.
Antara Sepakat dan Tidak Sepakat
Khaled selain menuturkan kisah yang mengguncang emosi, juga menyisipkan tentang budaya Afghanistan dan penduduknya. Bagaimana dikisahkan tentang pandangan bangsa Afghan terhadap kedudukan kaum laki-laki dan perempuan. Suami dan istri. Khaled menyatakan di sana sebagai budaya Afghan, hanya saja karena mereka muslim, maka pembaca hampir pasti akan langsung menganggap bahwa Islam di Afghan seperti itu, dan bisa saja sebagian yang belum memahami Islam yang sebenarnya menjadikan Islam di Afghan sebagai prototype.
Dikisahkan juga ada yang berpikiran moderat (meski sedikit), ada yang berpikiran sempit, dan kebanyakan berpikiran sempit. Dan, saya sebagai seorang muslim saat membacanya terlintas ketidaksepakatan atas sikap dan hukum yang berlaku pada setting Afghan, meskipun kenyataannya memang begitu sebagian besar. Dalam kisah ini, Islam tidak tergambar secara benar. Terlihat pada perlakuan Rasheed kepada istrinya-istrinya, Mariam dan Laila, yang suka memukul dan menghina. Perlakuan Rasheed terhadap putrinya. Begitupun konsep poligami yang dilakukan Rasheed sebenarnya tidak sesuai dengan yang diajarkan dalam Islam. Begitu juga perlakuan pihak militer dan hukum pemerintahan Afghanistan terhadap wanita, pendidikan wanita, terhadap seni, dsb. Padahal seharusnya Islam itu universal, penuh kasih sayang, hukumnya adil, memuliakan wanita, dsb.
Menurut saya, seharusnya Khaled bisa menambahkan penjelasan tentang Islam yang sebenarnya. Setidaknya diselipkan alternatif bahwa Islam yang benar itu begini, atau begitu, namun tetap dalam konteks novel alias fiksi. Kelemahannya menurut saya ada pada bagian tersebut jika ditinjau dari kacamata pemikiran saya pribadi, bukan sastra.
Akhir yang Mengharukan, Meninggalkan Banyak Harapan
Kisah Mariam dan Laila memang sangat mengharukan, mengguncang emosi. Tak salah jika media di USA menyatakan novel ini membuat emosi terkoyak dan serasa teraduk-aduk. Itu kelebihan buku ini, Khaled mampu menampilkan kisah yang sangat emosional membawa pembaca seakan terbawa suasana kisah yang disuguhkan. Saat Mariam harus menerima hukuman atas pembunuhannya terhadap Rasheed, di saat itulah akhir kehidupan Mariam. Dan, novel ini ditutup dengan kisah Laila dan keluarganya yang berakhir bahagia, meski ukuran bahagia di Afghanistan mungkin tak sama dengan negara lain.
Tetapi, kisah ini meninggalkan banyak sekali harapan di kepala saya, seperti:
- Pada saat akan ditembak mati, Mariam tiba-tiba tidak mati, sebab hukuman matinya digagalkan oleh Laila. Tetapi harapan ini nyatanya tidak terwujud, Mariam mati, itu skenarionya.
- Laila seharusnya tidak pulang ke kampung halamannya, seharusnya ia bisa bahagia dengan hidup nyaman. Karena tak ada yang menjamin kondisi Afghan akan aman. Perang masih berkecamuk kecil. Namun, ternyata Laila begitu cinta dengan tanah airnya, dan ia ingin memajukan bangsanya, mengabdi pada tanah kelahirannya. Salut! Kelebihan lain menurut saya, sebab Khaled mampu memberikan pemahaman tentang cinta tanah air begitu dalam pada kisahnya, dan ini sangat membekas bagi saya. Inspiratif.
- Berharap Mariam bisa hidup bahagia dengan keluarga Laila, tetapi tetap saja akhirnya tidak begitu.
Begitulah, banyak hal yang membuat saya terpesona dengan buku ini, meskipun saya kurang puas dengan ending novel ini. Tetapi saya tetap suka novel ini. Buku ini layak untuk dibaca, bahkan sangat layak bagi para pecinta novel sosial. Selamat membaca!
Review juga dapat dilihat di Evy’s Goodreads









September 13th, 2008 at 10:46 am
it’s great
Reply
September 26th, 2008 at 8:10 am
sedih bener nih buku, masak sih hidup manusia seapes itu, baca buku ini sakit hati, sakit hati sama siapa, sama pengarangnya karena bikin saya menangis, tobat deh, gak mau lagi baca -baca buku sedih
Reply
December 26th, 2008 at 8:26 pm
kira2, berapa sih harga bukunya?
Reply
December 26th, 2008 at 9:51 pm
kalo ga salah dulu saya beli harganya sekitar 50rb an gitu yah apa 40rban lupa
coba aja mas googling
Reply
November 16th, 2009 at 7:31 pm
saya nangis baca buku ini. terutama pada bagian Laila membaca surat yang ditinggalkan Jalil untuk Mariam. Mariam meninggal tanpa mengetahui bahwa sebenarnya Jalil menyayanginya. mengharukan. yang terlintas di kepala saya adalah betapa tidak adilnya hidup bagi Mariam, sementara saya berekspektasi bahwa mariam dapat hidup bahagia bersama Laila.
saya sebenarnya membaca buku ini karena ada tugas mengidentifikasi unsur intrinsik novel. dan saya tidak menyesal membacanya. great book.
Reply
admin Reply:
November 16th, 2009 at 9:37 pm
terimakasih mba sudah berkunjung ke website kami ^_^
yup, sama kok. saya juga pengennya mariam hidup bahagia, tapi ga taunya akhirnya sad ending hehe….
wah berarti mba ini sastrawan ya…luar biasa. sering-sering ke sini ya mba. kalau mba mau sumbang ebook non-copyright atau review fiksi, boleh banget.
Reply
November 22nd, 2009 at 12:38 am
waduh. saya bukan sastrawan atau semacamnya. saca cuma siswi SMA biasa yang lumayan suka baca buku, terutama novel.
Reply